Makna Kesetaraan Gender Dalam Revitalisasi Seni Penca Sobrah Sebagai Bentuk Perlawanan Terhadap Mitos Ketidakberdayaan Tubuh Perempuan Sunda
DOI:
https://doi.org/10.37278/artcomm.v7i1.945Keywords:
gender equality, revitalization of penca sobrah, Sundanese womenAbstract
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tentang makna kesetaraan gender dalam revitalisasi seni penca Sobrah sebagai bentuk perlawanan terhadap mitos ketidakberdayaan tubuh perempuan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan pesilat perempuan mengalami diskriminasi gender. Setelah mendalami seni penca sobrah, pesilat perempuan mampu menghadapi kebimbangan dan memiliki kekuatan dalam mengatasi berbagai berbagai permasalahan, mampu menjaga diri, dan menyadari bahwa perempuan dengan segala atribut kecantikan dan keanggunan yang dimilikinya justru memiliki keberdayaan dan kekuatan. Pada in order to motives, pesilat perempuan ingin melestarikan budaya Sunda melalui revitalisasi seni penca Sobrah yang bertujuan untuk membangun kebanggaan dan penghargaan terhadap identitas perempuan Sunda. Pada because motives pesilat perempuan ingin melakukan perlawanan terhadap ketidaksetaraan gender yang muncul melalui ilusi zona nyaman perempuan sehingga mereka merasa perlu melakukan pembuktian diri terhadap kemampuan yang dimiliki perempuan. Pesilat perempuan memaknai kesetaraan gender dalam revitalisasi seni penca Sobrah sebagai usaha untuk menghadirkan identitas kekuatannya dalam wilayah domestik. Tindakan membuka gelung rambut memperlihatkan sikap yang bersumber pada kemandirian dan ketegasan perempuan Sunda dalam melindungi dirinya maupun keluarganya. Melalui seni penca Sobrah, perempuan Sunda membongkar identitas kekuatannya dalam wilayah domestik. Perempuan Sunda dalam khazanah mitologi Sunda pada akhirnya memiliki kuasa atas dirinya sendiri
References
Ardianto, Elvinaro, Q-Anees, Bambang. (2014). Filsafat Ilmu Komunikasi. Bandung: Simbiosa.
Beauvoir, Simone De. (2016). Second Sex: Kehidupan Perempuan. Jakarta: Narasi.
Creswell, John W. (2019) Research Design: Pendekatan Metode Kualitatif, Kuantitatif, dan Campuran. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Ediyono, Suryo dan Widodo, Sahid Teguh (2019). Memahami Makna Seni dalam Pencak Silat. Jurnal Seni Budaya Panggung, 29(3), 299-313.
Faradilla, Sindi. Fenomena Menikah Di Kalangan Mahasiswa Fisip Universitas Riau (Studi Fenomenologi Tentang Motif, Makna dan Pengalaman Komunikasi). Vol. 6, JOM FISIP. 2019.
Fakih, Mansour. (2014). et.al, Membincang Feminisme: Diskursus Gender Perspektif Islam Cet. I: Surabaya: Risalah Gusti.
Hamzah, Amir. (2020). Metode Penelitian Fenomenologi. Malang: CV. Literasi Nusantara Abadi.
Haq, Mochamad Ziaul (2023). Eksistensi Perempuan Sunda Berdasarkan Dimensi Sunan Ambu dalam Epos Lutung Kasarung. Jurnal Hanifiya, 6(1), 13-24.
Heryana, Agus (2012). Mitologi Perempuan Sunda. Jurnal Patanjala, 4(1), 156-169.
Istianah I. Perempuan dalam Sistem Budaya Sunda (Peran dan Kedudukan Perempuan di Kampung Geger Hanjuang Desa Linggamulya Kecamatan Leuwisari Kabupaten Tasikmalaya). Al-Tsaqafa : Jurnal Ilmiah Peradaban Islam. 2020;17(2):195–204.
Khakamulloh, M., Mayasari, M., & Yusup, E. (2020). Analisis pola komunikasi budaya ngopi di komunitas Karawang Menyeduh. Jurnal Manajemen Komunikasi, 5(1), 96-116.
Kusumo, Elang dan Lemy, Diena M (2021). Pengembangan Budaya Pencak Silat Sebagai Atraksi Pariwisata Budaya di Indonesia. Journal Pariwisata Pesona, 6(1), 76-80.
Latief, A., Maryam, S., & Yusuf, M. (2019). Kesetaraan Gender dalam Budaya Sibaliparri Masyarakat Mandar. Pepatudzu: Media Pendidikan dan Sosial Kemasyarakatan, 15(2), 160-173.
Lutfillah, MM. (2021). Negara Tanpa Perempuan “Menelisik Peran Negara untuk Kaum Perempuan”. Surabaya: CV. Jakad Media Publishing.
Maulina, Rini dkk (2019). Makna Indung Bagi Milenial. Seminar Nasional & Pameran Hasil Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat 2019 Ketahanan Budaya Lokal di Era Digital, 1(1), 144-149.
Mulyana, Deddy. 2014. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung: Rosda.
Monggala, Alen dan Thadi, Robeert (2021). Fenomenologi Alfer Schutz: Studi Tentang Pemakaian Peci Hitam Polos. Journal of Public Policy and Administration Silampari, 3(1), 19-25.
Nugroho, O. C. (2016). Interaksi Simbolik Dalam Komunikasi Budaya (Studi Analisis Fasilitas Publik Di Kabupaten Ponorogo). ARISTO, 3(1), 1-18.
Nuraeni, Y., & Suryono, I. L. (2021). Analisis Kesetaraan Gender Dalam Bidang Ketenagakerjaan Di Indonesia. Nakhoda: Jurnal Ilmu Pemerintahan, 20(1), 68-79.
Nuryanto N. (2020). Sosial-Ritual Dan Simbolik-Mistik Pada Pawon (Studi kasus: Arsitektur Kasepuhan Ciptagelar-Sukabumi). Jurnal Arsitektur ZONASI. 2020;3(2):125–35.
Permatasari, Lin & Adiputra, Wisnu Martha. (2013). Ketika Perempuan Menjadi Jurnalis Studi Etnografi Feminis terhadap Profesionalisme Jurnalis Perempuan. Universitas Gajah Mada.
Pujileksono, Sugeng. (2016). Metode Penelitian Komunikasi Kualitatif. Malang: Intrans.
Puspitawati, Herein. (2013). Konsep, Teori Dan Analisis Gender. Bogor: Fakultas Ekologi Manusia Intitut Pertanian Bogor.
Qomariah, D. N. (2019). Persepsi Masyarakat Mengenai Kesetaraan Gender Dalam Keluarga. Jendela PLS: Jurnal Cendekiawan Ilmiah Pendidikan Luar Sekolah, 4(2), 52-58.
Rohmana, Jajang A dan Ernawati (2014). Perempuan dan Kearifan Lokal: Performativitas Perempuan dalam Ritual Adat Sunda. Jurnal Musawa, 13(2), 151-165.
Saefurridjal AN, Rasidin D, Fajaria RD. Proses Penciptaan Dan Struktur Tari Udar Gelung. Tandik: Jurnal Seni dan Pendidikan Seni. 2021;1(2): 13–24.
Sentosa, Amrin Tegar. (2015). Pola Komunikasi Dalam Proses Interaksi Sosial Di Pondok Pesantren Nurul Islam Samarinda. Ejournal Ilmu Komunikasi, 2015, 3 (3): 491-503
Syamsiah, N. (2014). Wacana kesetaraan gender. Jurnal Sipakalebbi, 1(3).
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2024 Nugraha Sugiarta, Anggita Lestari

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
Authors who publish articles in ArtComm : Jurnal Komunikasi dan Desain agree to the following terms:
- Authors retain copyright of the article and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under a CC-BY-SA or The Creative Commons Attribution-ShareAlike License.
- Authors are able to enter into separate, additional contractual arrangements for the non-exclusive distribution of the journal's published version of the work (e.g., post it to an institutional repository or publish it in a book), with an acknowledgment of its initial publication in this journal.
- Authors are permitted and encouraged to post their work online (e.g., in institutional repositories or on their website) prior to and during the submission process, as it can lead to productive exchanges, as well as earlier and greater citation of published work (See The Effect of Open Access).
